Sabtu, 28 Januari 2023

KESERUAN PUNCAK TEMA REKREASI KB MELATI DESA WATES

KESERUAN PUNCAK TEMA REKREASI KB MELATI DESA WATES

SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2022/2023

Sabtu,28 Januari 2023 adalah hari pelaksanaan puncak tema rekreasi kegiatan pembelajaran di KB Melati Desa Wates. Berdasarkan hasil musyawarah paguyuban wali murid, kami sepakat untuk mengunjungi salah satu objek wisata bernama Gronjong wariti yang berlokasi di Desa Majono Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri. Kami berangkat bersama ke sana pukul 07.30 naik kendaraaan yang paling familiar dengan anak-anak yaitu kereta api kelinci.

Mengapa kami memilih tujuan objek wisata Gronjong Wariti ? karena objek wisata tersebut terdapat banyak wahana anak-anak dan bernuansa  alam. Di pintu gerbang masuk, kita sudah disambut oleh pak Satpam yang ramah. Rombongan kami memasuki area yang penuh bunga di kanan kiri dan hiasan yang terbuat dari ban bekas. Meskipun demikian ban bekas tersebut kelihatan menarik dengan polesan cat warna warni. Setelah pintu masuk ada sebuah air terjun mini dengan aliran air yang sangat deras mengiringi suara alam menambah kesyahduan.



Anak-anak dengan tidak sabar menggandeng tangan orang tuanya menuju beberapa wahana yang tersuguh di hadapannya. Ada yang langsung menuju kolam renang ada yang menuju mainan mobil-mobilan dan ada pula yang beristirahat sebentar untuk menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah. Aneka wahana yang dinikmati anak-anak KB Melati Desa wates antara lain:

1.Kolam Renang Mini
Ada banyak kolam mini disediakan oleh pengelola objek wisata Gronjong Wariti. Kolam renang mini ini dirancang dengan berbagai ukuran dan bentuk yang berbeda-beda di tempat yang berbeda pula namun tetap dalam satu lokasi. hal ini mungkin ditujukan agar anak-anak dapat leluasa berenang tanpa berjubel. Air kolamnya pun terlihat jernih dan terjaga keamanannya. tiket masuk per anaknya pun bervariasi mulai dari 3.000 rupiah hingga 10.000 rupiah.


2. Bermain Mobil-mobilan
Area bermain mobil-mobilan tidak kalah seru dengan area kolam renang. Melalui bermain mobil-mobilan anak banyak menggunakan daya imajinasinya yaitu sebagai sopir seperti layaknya orang dewasa. Di wahana ini anak dapat beramain peran sesuai keinginan mereka. Mungkin ada yang membayangkan sebagai pembalap pula.




3. Bermain Memancing ikan dan Bersepeda Scoter
Memancing ikan  dan bersepeda scooter juga salah satu kegiatan yang mengasyikan bagi anak-anak. 
melatih koordinasi tangan dan otak yang beguna untuk melatih motorik halusnya, mengembangkan sosial emosionalnya dengan menunjukkan sikap bersabar saat memancing. Bersepada scooter juga melatih keseimbangan dan kelincahan.


4. Berkuda dan berfoto ria dengan burung Hantu
Bagi yang ingin merasakan naik dokar di Gronjong Wariti juga menyediakan sarana tersebut. Pengunjung dimanjakan dengan berkeliling kampung menaiki dokar, yaitu salah satu kendaraan tradisional pada jaman dahulu sebelum ada kendaraan bermesin. Di sini anak-anak dapat melihat dan merasakan langsung sensasi naik dokar.





5. Wahana Komedi Putar
Baagi anak-anak yang takut naik dokar sesungguhnya, Gronjong Wariti juga menyediakan permainan komedi putar dengan kuda-kuda mainan berbahan kayu ringan. Anak anak duduk diatas punggung kuda kayu dan akan diajak berputar putar di tempat. Meski hanya berputar di satu tempat mereka tidak kalah bahagia dibanding dengan menaiki kuda sesungguhnya.


6. Wahana Perahu
Wahana perahu adalah salah satu wahana unggulan di Gronjong Wariti, disana disediakan beberapa perahu yang dapat ditumpangi sepuluh hingga 15 orang. Jangan khawatir perahu itu sudah teruji keamanannya dan dinahkodai orang yang sudah terampil. Sesekali terdengar riuh teriakan serombongan penumpang berteriak ketakutan bercampur senang, karena perahunya kadang sedikit tidak berimbang ketika akan berbalik arah. Namun demikian edukasi yang didapat dengan kendaraan air tradisional ini juga akan menambah wawasan anak-anak akan macam -macam kendaraan tradisional.





7. Kereta Kebun
Kereta kebun adalah salah satu wahana yang mirip dengan rool coaster yang terdapat di Objek Wisata besar di tanah air. meskipun bentuknya mini seru juga loo naik kereta kebun ini. kadan ada tanjakan dan juga turunan dan menyusuri area kebun di Gronjong wariti.


8. Menikmati jajanan kuliner tradisional
Yang sangat menarik dari Objek Wisata Gronjong wariti adalah pengunjung dapat menikmati kembali jajanan-jajanan tradisional yang mulai hilang dan tergeser oleh makanan cepat saji. jajanan itu antara lain cenil, klepon, opak sermier, kacang rebus dan lain-lain. Harga dari aneka kue tradisional itu sangat terjangkau saku pengunjung yang rata-rata masyarakat pedesaan dan anak sekolah.Tempat menjajakannya pun dikemas sangat kuno sekali. warung dengan bahan baku bambu yang diberi nama Njajan Sor Barongan. 

Dibalik cerita bahagia diatas tidak adil sekiranya jika yang unik dari kegiatan diatas tidak ikut ditulis, Masuk kedalam catatan kami ada juga nih anak yang mungkin karena kelelahan dan tidak mau pulang he he he he kapan -kapan kesini lagi ya Nak! satu lagi juga ada kisah sepasang jaket kakak beradik yang ketinggalan. "Terima kasih yang sudah merawat jaketnya !" 





Nah, itulah sekilas pengalaman sebentar namun penuh makna diseputar kegiatan puncak tema Rekreasi di satuan Kelompok Bermain KB Melati. Semoga kegiatan ini dapat menstimulasi perkembangan peserta didik pada rentang usia dini dan memberikan banyak edukasi pada orang tua dan masyarakat untuk mengenalkan potensi yang ada disekitar kita mulai dari Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alamnya. 




Kamis, 26 Januari 2023

 

PARTISIPASI KB MELATI DESA WATES

DALAM RANGKA MENSUKSESKAN 

GERAKAN MENANAM  134.000 POHON TAHUN 2023






Seperti halnya dilakukan oleh satuan pendidikan lainnya, pada tahun 2023 ini Kelompok Bermain (KB) Melati Desa Wates tak kalah heboh ikut memeriahkan gerakan menanam 134.000 pohon. Para Wali murid dan peserta didik sangat antusias menggiatkan warga sekolah untuk berbondong-bondong melakukan Gerakan serempak menanam pohon tersebut.

Sesuai Instruksi dari Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk (Bapak Sopingi) yang dilansir oleh Kompas.com ( 11/11/22 ) gerakan penanaman 134 pohon ini dimaksudkan untuk menyongsong Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)yang jatuh pada 2 Mei 2023 sekaligus untuk memperingati Hari Lahir ke 134 Ki Hajar Dewantara. 

Agar gerakan penanaman 134.000 pohon tahun ini tidak memberatkan, para siswa diperbolehkan melakukan pembibitan sendiri, baik pembibitan melalui biji maupun dengan cara pencakokan atau stek batang. Adapun untuk lokasi penanamnya bisa dilakukan di pekarangan masing-masing.




Pada Tahun Pelajaran 2022/2023 ini jumlah peserta didik KB Melati yang terdaftar di Dapodik adalah sejumlah 40 Siswa yang mayoritas berusia 3-4 Tahun. Kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. atas kerjasama walimurid yang tergabung pada paguyuban kelas Kelompok Bermain beserta para Tenaga Pendidik KB Melati.


Setelah melakukan musyawarah, paguyupan walimurid mengambil kesepakatan untuk menanam pohon Alpukat. Tanaman ini dipilih, disamping termasuk tanaman buah yang kaya akan manfaat tanaman ini juga mudah cara menamnya dan perawatannya juga murah. cukup disiram air dan sesekali diberi pupuk organik secukupnya. Mulai dari pengadaan bibit buah Alpukat pendistribusian dan pelaksanaan dikoordinir oleh salah satu wakil paguyuban, Begitu pula nanti proses evaluasi trimester pertama, kedua dan selanjutnya.

Bentuk pelaporannya yaitu anak-anak mengirim foto hasil pelaksanaan kegiatan menanam pohon di pekarangan masing-masing, serta melakukan pencatatan terhadap tumbuh kembang tanaman tersebut.

Selain dimaksudkan untuk menyongsong Hari Pendidikan (Hardiknas) dan memperingati Hari Lahir ke-134 Ki Hajar Dewantara, Kegiatan ini juga bermanfaat bagi anak-anak dalam proses pembelajaran saintifik.

Menurut Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014, pendekatan saintifik dioperasionalisasikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang di dalamnya memuat pengalaman belajar dalam bentuk kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi (mencoba), menalar (mengasosiasi), dan mengomunikasikan.

Untuk mendapatkan kelima pengalaman tersebut, Permendikbud No 22 Tahun 2016, merekomendasikan agar diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning), pembelajaran berbasis pemecahan masalah (problem based learning, dan pembelajaran berbasis proyek (project based learning).

Nah, Memang tepat jika Gerakan Menanam 134.000 pohon ini akan membangun pengetahuan peserta didik Anak Usia Dini di KB Melati Desa Wates tentang manfaat tanaman Alpukat bagi kesehatan dan lingkungan. Setelah proses menanam selesai, Ayah bunda yuk bimbing anak kita untuk melaksanakan proses pengamatan dari tanaman Alpikat yang telah ditanam bulan ini. 




Semoga tanaman Alpukatnya nanti tumbuh besar dan berbuah lebat, Yuk bersama sayangi lingkungan dan ciptaan Tuhan. Semangat belajar dan berproses anak-anak peserta didik KB Melati.


Rabu, 25 Januari 2023

KONSEP PELIBATAN KELUARGA DI SATUAN PAUD (KB MELATI)

 

KONSEP PELIBATAN KELUARGA DI SATUAN PENDIDIKAN

KB MELATI DESA WATES


Latar Belakang 

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama, dan orang tua adalah pendidik utama. Akan tetapi, dalam kenyataan, sebagian besar orang tua merupakan pendidik paling tak tersiapkan. Data menunjukkan bahwa lama pendidikan Warga Negara Indonesia baru 8,56 tahun (PDSP, 2015-2016) atau setara kelas 3 SMP, artinya secara umum orang tua atau calon orang tua belum memiliki pendidikan yang cukup untuk menjadi orang tua yang memadai dalam mendidik anak-anaknya. Lepas dari permasalahan di atas, setiap orang tua siap atau tidak siap berkewajiban mendidik anak-anaknya sejak dalam kandungan hingga anak menyelesaikan pendidikannya. Peran orang tua sebagai pendidik utama di keluarga menjadi sangat penting, walaupun orang tua tidak mendapatkan pendidikan atau pelatihan khusus untuk menjadi orang tua sebagaimana dalam mempersiapkan calon pendidik atau tenaga kependidikan. Keberhasilan pendidikan anak bergantung kepada keterlibatan keluarga. 

Banyak penelitian menunjukan bahwa keterlibatan keluarga, terutama orang tua di satuan pendidikan atau sekolah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan orang tua, anak, guru, dan sekolah dalam hal: 

(1) mendukung prestasi akademik, meningkatkan kehadiran, memberi kesadaran tentang kehidupan sehat, dan meningkatkan perilaku positif; 

(2) memperbaiki pandangan orang tua terhadap sekolah, meningkatkan kepuasan terhadap guru, dan mempererat hubungan dengan anak; dan 

(3) memperbaiki iklim, meningkatkan kualitas, dan disiplin sekolah. Disadari, satuan pendidikan belum mampu memberikan semua kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. 

Untuk itu, diperlukan keterlibatan bermakna dari keluarga terutama orang tua dan anggota masyarakat. Peran keluarga/orang tua dapat diwujudkan melalui penciptaan lingkungan yang kondusif bagi belajar anak. Anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika lingkungan sekitarnya mendukung. Keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan “tri sentra dalam ekosistem pendidikan” yang sangat penting dan merupakan satu kesatuan dalam menjamin pertumbuhan, perkembangan, dan belajar anak secara optimal. Untuk itu, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan bersifat mutlak, agar layanan terhadap belajar anak di satuan pendidikan dan masyarakat dapat terwujud secara optimal.

Pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan dalam membangun ekosistem pendidikan sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong”. Oleh karena itu, diharapkan pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik dan bermakna. 

Sebagai unsur dalam ekosistem yang terdekat dengan anak, orang tua mempunyai banyak kesempatan melalui interaksi dan komunikasi sehari- hari. Bentuk dan cara-cara interaksi dengan anak di dalam keluarga akan mempengaruhi tumbuh kembangnya karakter baik dan budaya prestasi anak. Proses interaksi yang diterima anak dari keluarga inilah yang akan bermanfaat, dan menjadi landasan atau dasar baginya dalam proses perkembangan selanjutnya pada lingkungan yang lebih luas terutama di sekolah dan di masyarakat.

Bentuk Kegiatan Pelibatan Keluarga di Satuan PAUD  KB MELATI

Bentuk-bentuk kegiatan pelibatan keluarga yang dapat diprogramkan atau dilakukan oleh satuan PAUD secara lengkap sesuai dengan  Permendikbud No. 30 Tahun 2017 Pasal 6, yang terdiri dari 10 bentuk kegiatan. Kesepuluh bentuk kegiatan tersebut adalah: 

  1. Menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan; 
  2. Mengikuti kelas orang tua/wali; 
  3. Menjadi narasumber dalam kegiatan di satuan pendidikan; 
  4. Merperan aktif dalam kegiatan pentas kelas akhir tahun pembelajaran; 
  5. Merpartisipasi dalam kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, dan kegiatan lain untuk pengembangan diri anak; 
  6. Bersedia menjadi anggota Komite Sekolah; 
  7. Berperan aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Komite Sekolah; 
  8. Bersedia menjadi anggota tim pencegahan kekerasan di satuan pendidikan; 
  9. Berperan aktif dalam kegiatan pencegahan pornografi, pornoaksi, dan penyalahgunaan narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA); 
  10. Memfasilitasi dan/atau berperan dalam kegiatan penguatan pendidikan karakter anak di satuan pendidikan
Paguyuban Orang tua/Wali di Tingkat Kelas 

Paguyuban orang tua/wali di tingkat kelas dibentuk agar semua orang tua/wali peserta didik dapat terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan. Melalui media paguyuban ini pihak Satuan Pendidikan berfungsi sebagai inisiator, fasilitator dan pengendali. Hal ini dilakukan agar dapat: 

  1. Mensosialisasikan program dan kegiatan pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan kepada semua orang tua/ wali agar mereka dapat memahaminya dan tergugah untuk berpartispasi aktif; 
  2. Mengidentifikasi orang tua/wali, mana yang aktif dan tidak, dengan berbagai alasannya, kemudian mendiskusikannya dengan orang tua/wali lain yang aktif untuk mencari solusi; 
  3. Memulai kegiatan pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan melalui komunikasi dengan orang tua/wali tentang perkembangan peserta didik; 
  4. Memelihara komunikasi agar terjadi keselarasan dalam pola pendidikan, pengasuhan, pengarahan, motivasi antara Satuan PAUD dengan keluarga (orang tua/wali); dan 
  5. Berdiskusi untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi peserta didik, Satuan PAUD, dan orang tua/ wali